Pagi hari ini, Erlyn pergi ke sekolah
bersama Dhita menggunakan sepeda mereka masing – masing. Sambil mengayuh
sepeda, mereka menyelingkan canda gurau mereka di sana. Karena sekarang hari
Sabtu, meraka bisa berangkat sekolah bersama. Perjalanan ke sekolah kurang
lebih 15 menit. Jadi meraka berangkat dari rumah pukul 06.30 sehingga mereka
sampai sekolah tepat waktu. Kesempatan ini juga jarang terjadi karena dihari
biasa, Erlyn menyempatkan waktunya mengikuti les pagi di sekolahnya. Mereka memang
sahabat, namun jarang bersama karena tugas yang berbeda.
Namun saat itu, Erlyn merasa terpukul
karena mendengar berita bahwa sahabatnya itu akan segera pindah. Begitupun
Dhita yang sangat terkejut dengan keputusan kedua orang tuanya. Bagaimana
tidak, Erlyn dan Dhita sudah menjalin persahabatan sejak kelas 4 SD sampai
sekarang. Mereka berdua sungguh sehati. Kepribadian mereka tidak jauh berbeda,
begitupun dengan tipe pria yang mereka sukai. Tak jarang mereka juga menyukai
pria yang sama. Mungkin hal itu yang membuat hati mereka terikat satu sama
lain.
Tapi anehnya, meski mereka sering
menyukai pria yang sama mereka tidak merasa sakit hati ataupu cemburu. Mungkin karena
mereka sudah saling memahami lebih dari yang lain. Mereka juga tidak pernah
ragu menuangkan kegembiraan dan keluh kesah mereka bersama – sama. Jika Dhita
ingin bercerita, Erlyn selalu ada untuknya begitu juga sebaliknya. Namun semua
akan hilang seketika saat hari kepindahan Dhita terjadi. Mulai saat itu, Erlyn
selalu menyisihkan waktunya untuk sang sahabat.
Saat Dhita memberi kabar menyedihkan
itu, Dhita dan Erlyn sudah kelas 2 SMP. Sekolah mereka sama, yaitu di SMPN 2
JETIS. Tapi kelas mereka berbeda, karena itu mereka tidak punya banyak waktu untuk
bersama. Namun mereka selalu menyempatkan diri untuk bisa berangkat dan pulang
sekolah bersama.
Kali pertama Erlyn mendengar berita
itu, saat Erlyn dan Dhita selesai shalat Dhuhur di mushola sekolahnya pada jam
pulang. Dhita langsung memberitahukan kepada Erlyn hasil keputusan kedua
orangtuanya. Sontak Erlyn menangis dengan tersedu-sedu. Dhita berusaha
menenangkan Erlyn yang sedang menangis.
* * * * *
Satu
bulan terakhir sebelum kepergian Dhita. Mereka sudah kelas 3 SMP. Semakin hari,
persahabatan mereka semakin erat dan semakin jarang terjadi pertangkaran.
Mungkin karena mereka merasa akan segera kehilangan sahabat terbaik mereka.
Saat hari Minggu terakhir, Erlyn
mengajak Dhita untuk membuat kenangan yang terakhir kalinya. Mereka berfoto
bersama dan berkeliling sepuasnya. Hari itu adalah hari terbaik bagi Erlyn juga
hari terburuk yang ia rasakan karena ia akan segera kehilangan sahabatnya.
Malam harinya, Erlyn tidak bisa tidur
dengan tenang karena memikirkan sahabatnya itu. Entah bagaimana dengan Dhita,
apakah merasakan hal yang sama dengan Erlyn atau justru tidur dengan sangat
nyenyak untuk mempersiapkan kepergiannya.
Esok harinya, kejadian terburuk bagi
Erlyn terjadi. Dhita meninggalkan rumah lamanya dan menempati rumah yang baru.
Begitu juga dengan sekolahnya. Dhita mendapat sekolah yang baru juga teman
baru. “Entah Dhita sudah mendapat teman dekat atau sahabat baru?” pikir Erlyn
dalam benaknya.
Jam sekolah dimulai. Sekarang semua
pertanyaan memenuhi pikiran Erlyn. Erlyn tidak dapat berkonsentrasi saat guru
menjelaskan. Ia hanya memikirkan semua pertanyaannya itu dan berencana untuk menanyakan semua pertanyaannya itu
kepada Dhita saat pulang sekolah nanti.
Terbiasa pulang bersama, sekarang
Erlyn harus pulang sendiri dan berusaha mencari teman baru untuk pulang
bersama. Mungkin hal itu dapat menghibur dirinya pikir Erlyn. Begitulah
kehidupan Erlyn setelah kehilangan sahabat terbaiknya. Kesepian dan kesepian
menghiasi harinya. Tidak lengkap tanpa adanya sahabat baginya.
tugas cerpen b.indo yah ????
BalasHapusbagus nich cerpennya
BalasHapusbagus
BalasHapusMenarik judulnya
BalasHapuskeren.
BalasHapus