Kamis, 29 September 2016

Setengah Bulan Purnama



Pagi hari ini, Erlyn pergi ke sekolah bersama Dhita menggunakan sepeda mereka masing – masing. Sambil mengayuh sepeda, mereka menyelingkan canda gurau mereka di sana. Karena sekarang hari Sabtu, meraka bisa berangkat sekolah bersama. Perjalanan ke sekolah kurang lebih 15 menit. Jadi meraka berangkat dari rumah pukul 06.30 sehingga mereka sampai sekolah tepat waktu. Kesempatan ini juga jarang terjadi karena dihari biasa, Erlyn menyempatkan waktunya mengikuti les pagi di sekolahnya. Mereka memang sahabat, namun jarang bersama karena tugas yang berbeda.
Namun saat itu, Erlyn merasa terpukul karena mendengar berita bahwa sahabatnya itu akan segera pindah. Begitupun Dhita yang sangat terkejut dengan keputusan kedua orang tuanya. Bagaimana tidak, Erlyn dan Dhita sudah menjalin persahabatan sejak kelas 4 SD sampai sekarang. Mereka berdua sungguh sehati. Kepribadian mereka tidak jauh berbeda, begitupun dengan tipe pria yang mereka sukai. Tak jarang mereka juga menyukai pria yang sama. Mungkin hal itu yang membuat hati mereka terikat satu sama lain.
 
Tapi anehnya, meski mereka sering menyukai pria yang sama mereka tidak merasa sakit hati ataupu cemburu. Mungkin karena mereka sudah saling memahami lebih dari yang lain. Mereka juga tidak pernah ragu menuangkan kegembiraan dan keluh kesah mereka bersama – sama. Jika Dhita ingin bercerita, Erlyn selalu ada untuknya begitu juga sebaliknya. Namun semua akan hilang seketika saat hari kepindahan Dhita terjadi. Mulai saat itu, Erlyn selalu menyisihkan waktunya untuk sang sahabat.
Saat Dhita memberi kabar menyedihkan itu, Dhita dan Erlyn sudah kelas 2 SMP. Sekolah mereka sama, yaitu di SMPN 2 JETIS. Tapi kelas mereka berbeda, karena itu mereka tidak punya banyak waktu untuk bersama. Namun mereka selalu menyempatkan diri untuk bisa berangkat dan pulang sekolah bersama.
Kali pertama Erlyn mendengar berita itu, saat Erlyn dan Dhita selesai shalat Dhuhur di mushola sekolahnya pada jam pulang. Dhita langsung memberitahukan kepada Erlyn hasil keputusan kedua orangtuanya. Sontak Erlyn menangis dengan tersedu-sedu. Dhita berusaha menenangkan Erlyn yang sedang menangis.
* * * * *
          Satu bulan terakhir sebelum kepergian Dhita. Mereka sudah kelas 3 SMP. Semakin hari, persahabatan mereka semakin erat dan semakin jarang terjadi pertangkaran. Mungkin karena mereka merasa akan segera kehilangan sahabat terbaik mereka.
Saat hari Minggu terakhir, Erlyn mengajak Dhita untuk membuat kenangan yang terakhir kalinya. Mereka berfoto bersama dan berkeliling sepuasnya. Hari itu adalah hari terbaik bagi Erlyn juga hari terburuk yang ia rasakan karena ia akan segera kehilangan sahabatnya.
Malam harinya, Erlyn tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan sahabatnya itu. Entah bagaimana dengan Dhita, apakah merasakan hal yang sama dengan Erlyn atau justru tidur dengan sangat nyenyak untuk mempersiapkan kepergiannya.
Esok harinya, kejadian terburuk bagi Erlyn terjadi. Dhita meninggalkan rumah lamanya dan menempati rumah yang baru. Begitu juga dengan sekolahnya. Dhita mendapat sekolah yang baru juga teman baru. “Entah Dhita sudah mendapat teman dekat atau sahabat baru?” pikir Erlyn dalam benaknya.
Jam sekolah dimulai. Sekarang semua pertanyaan memenuhi pikiran Erlyn. Erlyn tidak dapat berkonsentrasi saat guru menjelaskan. Ia hanya memikirkan semua pertanyaannya itu dan berencana  untuk menanyakan semua pertanyaannya itu kepada Dhita saat pulang sekolah nanti.
Terbiasa pulang bersama, sekarang Erlyn harus pulang sendiri dan berusaha mencari teman baru untuk pulang bersama. Mungkin hal itu dapat menghibur dirinya pikir Erlyn. Begitulah kehidupan Erlyn setelah kehilangan sahabat terbaiknya. Kesepian dan kesepian menghiasi harinya. Tidak lengkap tanpa adanya sahabat baginya.

5 komentar: